Dari Bakar bin Amer dari Abdullah bin Hurairah As Saba’i dari Abdurrahman bin Jubair yang memberitahukan bahwa ia telah diberi riwayat oleh seseorang yang pernah melayani Rasulullah shalallahu alaihi wasalam selama kurang lebih delapan tahun. Orang tersebut mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berdoa ketika disuguhi makanan, “Jika Rasulullah shalallahu alaihi wasalam disuguhi makanan, beliau mengucapkan Bismillah. Dan jika telah selesai makan, beliau berdoa, ‘Allahumma ath’amta wa astaqoyta, wa aqnayta wa hadayta, wa ahyayta, falillahil hamdu ma a’thoyta [Ya Allah, Engkau telah memberi makan, memberi munim, memberi harta, memberi hadiah dan memberi penghidupan. Hanya milik Allah lah semua pujian, atas semua yang telah diberikan’.” [HR Ahmad 4/62, 5/375, Abusy Syaikh dalam Akhlaqun Nabi shalallahu alaihi wasalam].Hadits itu menjelaskan bahwa doa yang dibaca ketika akan makan adalah Bismillah, tah ada yang lain [tambahan]. Hadits-hadits shahih lainnya juga tidak menyebutkan adanya tambahan. Oleh karena itu tambahan itu merupakan bid’ah. Dan orang-orang yang memakai doa tambahan itu seandainya ditanya mereka akan menjadab, “Sebab doa itu telah banyak dipakai.”
Oleh karena itu mengenai adanya tambahan itu terdapat khilaf diantara ulama. Syaikh Abdullah bin Umar tidak mengakuinya sebagaimana di dalam Mustadrakul Hakim. Imam Suyuthi dalam Al Hawi Lil Fatawa 1/338 menyatakan bahwa tambahan itu adalah bid’ah madzmumah [tercela].
Sumber :
Silsilah Hadits Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, CV. Pustaka Mantiq, 1995
Showing posts with label Penyakit. Show all posts
Showing posts with label Penyakit. Show all posts
Wednesday, 24 October 2007
Hepatitis G
Gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.
Hepatitis F
Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah
Hepatitis E
Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri ( self-limited ), keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces.
Hepatitis D
Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.
Hepatitis C
Hepatitis artinya peradangan pada hati. Alkohol, bahan-bahan kimia, obat-obatan, penyakit auto imun atau infeksi viral dapat menyebabkan hepatitis. Hepatitis C adalah infeksi viral. Infeksi viral berarti, ada suatu virus yang masuk dan hidup di dalam tubuh.
Virus Hepatitis C (VHC) ini sebelumnya dikenal sebagai penyebab Hepatitis non-A non-B (NANB) pasca transfusi. Virus ini sangat bervariasi karena terdiri dari berbagai macam subtipe. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa VHC bukan saja merupakan penyebab terbanyak Hepatitis NANB pasca-transfusi, tetapi juga sebagai penyebab dari kasus-kasus hepatitis NANB sporadis atau “community acquired”.
Hepatitis C tersebar di seluruh dunia. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 100 juta pengidap kronis VHC. Dari segi epidemiologik, hepatitis C merupakan penyebab penyakit hati yang penting. Hal ini disebabkan selain menimbulkan hepatitis akut, sebagian besar penderitanya berlanjut menjadi hepatitis menahun dan pengidap yang merupakan sumber infeksi. Sekitar 20 dari penderita hepatitis menahun akan berkembang menjadi sirosis hati, yang sangat berpotensi menjadi kanker hati di kemudian hari. Waktu rata-rata diperlukan untuk berkembang menjadi sirosis hati adalah 17 tahun, dan menjadi kanker hati dalam waktu 20 tahun.
Tidak seluruh penederita hepatitis C menunjukkan gejala. Hanya sekitar 40% penderita yang timbul keluhan. Keluhan pun umumnya lebih ringan dari gejala yang ditimbulkan oleh Hepatitis A maupun B. Sisanya tidak memberikan gejala (asymptomatik). Pada hepatitis C kecenderungan untuk menjadi kronis dengan resiko menjadi sirosis dan kanker hati kemungkinannya sama dengan Hepatitis B. Seperti juga hepatitis B, pada hepatitis C juga terdapat pengidap sehat.
Cara Penularan
Penularan VHC terutama parenteral. Umumnya terjadi setelah mendapat kontak darah, seperti transfusi darah atau produk darah lainnya. Penggunaan bersama alat cukur atau sikat gigi dalam keluarga dapat menjadi salah satu cara penularan. Seperti HIV, karena virus ini adalah virus yang tinggal dalam darah, maka kontak darah merupakan cara penularan utama, seperti transfusi darah, tukar-menukar jarum suntik, peralatan dokter gigi yang tidak steril, dll. Selain itu virus ini juga dapat menular melalui cairan kelamin (saat hubungan seksual) dan ASI dari ibu pengidap Hepatitis C ke bayinya, meskipun memang angka kejadiannya lebih kecil daripada penularan melalui kontak darah.
Orang-orang yang mempunyai risiko tinggi terkena Hepatitis C adalah penderita penyakit yang memerlukan “cuci darah” (hemodialisa, kelompok pemakai obat secara intravena (Intravenous Drug User) atau pengguna narkoba suntikan, dan orang yang sering mendapat transfusi darah seperti penderita hemofilia dan thallasemia.
Di kalangan pecandu, penggunaan jarum suntik semakin meningkat. Seiring dengan meningkatnya penggunaan jarum suntik, meningkat secara tajam pula angka penularan virus Hepatitis C. Ini dikarenakan kebiasaan tukar menukar jarum suntik yang dilakukan oleh para pengguna narkoba suntikan. Sekarang ini, jumlah pengidap Hepatitis C sudah mencapai 90 % dari keseluruhan jumlah pecandu.
Gejala
Gejala Hepatitis C mirip dengan infeksi virus hepatitis B. Masa inkubasi berkisar antara 15-150 hari dengan rata-rata 8 minggu. Keluhan dan gejala yang ada antara lain kuning, air seni berwarna gelap, mual, mutah, kembung, tidak nafsu makan, rasa lelah, demam, mengigil, sakit kepala, sakit perut, mencret, sakit pada sendi dan otot, serta rasa pegal-pegal.
Gejala yang ditimbulkan oleh hepatitis C umumnya lebih ringan dibandingkan dengan hepatitis B. Kadang-kadang ditemukan penderita yang tanpa gejala. Nilai SGPT dan SGOT tidak setinggi pada hepatitis A dan B, tetapi dalam perjalanan penyakitnya terjadi kenaikan dan penurunan yang berfluktuasi, keadaan yang tidak ditemukan pada hepatitis virus lain. Setiap peningkatan enzim ini ada kaitannya dengan episode viremia.
Diagnosa
Diagnosa hepatitis C umumnya diperoleh dengan pemeriksaan berikut:
Pemeriksaan IgM anti-VHC dengan cara Elisa
IgM anti-VHC + menunjukkan adanya antibodi terhadap VHC. Antibodi ini tidak menyatakan kekebalan tetapi menadakan adanya partikel virus. Pemeriksaan ini berguna untuk mendiagnosa infeksi akut hepatitis C, mengetahui aktivitas VHC pada infeksi kronis, dan untuk mengetahui respon pasien hepatitis C kronis terhadap pengobatan interferon.
Pemeriksaan VHC RNA dengan cara biomolekuler (PCR)
Manfaat pemeriksaan ini antara lain untuk memastikan apakah penderita benar-benar pengidap VHC, menentukan prognosis, dan mengukur respons penderita setelah pengobatan dengan interferon.
Prognosa
Sekitar 80-90% penderita yang terkena infeksi akut hepatitis C akan berlanjut penyakitnya menjadi penyakit kronis. Kejadian menjadi kronis jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan hepatitis B. Dilaporkan bahwa sekitar 20% penderita akan mengalami sirosis hati yang berlanjut menjadi kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Selain itu, ada beberapa kasus diamana hepatitis C dapat menjadi hepatitis fulminan bila terjadi superinfeksi dengan virus hepatitis B kronis.
Pengobatan
Baru-baru ini, ada tiga jenis interveron dan suatu kombinasi interferon dan ribavirin yang digunakan untuk mengobati hepatitis C. Pasien yang akan dirawat dapat ditentukan melalui pemeriksaan biokimiawi, virologi, dan bila perlu, biopsi liver, bukan hanya lewat ada atau tidaknya gejala.
Interferon harus diberikan melalui suntikan, dan memiliki beberapa efek samping termasuk gejala yang mirip flu: sakit kepala, demam, merasa lelah, hilangnya nafsu makan, mual, muntah, depresi, dan rambut rontok. Interferon juga dapat mengganggu /mengacaukan produksi sel darah putih dan platelet darah dengan menurunkan/melemahkan sumsum tulang. Tes darah secara periodik dibutuhkan untuk memonitor sel darah and platelet.
Ribavirin dapat menyebabkan anemia parah yang datang secara tiba-tiba dan kecacatan pada janin sehingga kehamilan sebainya dihindari oleh wanita yang sedang menjalani perawatan dan selama 6 bulan setelah perawatan. Tingkat keparahan dan jenis efek samping berbeda-beda bagi setiap orang. Perawatan bagi anak-anak dengan virus Hepatitis C masih dalam penelitian.
Meskipun 50-60% pasien menunjukkan respon terhadap perawatan pada awalnya, hilangnya virus untuk jangka waktu yang bertahan lama hanya terjadi pada sekitar 10-40% pasien. Perawatan dapat diperpanjang dan diberikan untuk kedua kalinya bagi yang relapse setelah perawatan awal. Perawatan ulang dengan konsensus interferon yang dirancang secara biologis saja dapat menghilangkan virus pada 58% pasien yang dirawat selama satu tahun. Efek samping dapat terjadi tetapi pengobatannya sendiri biasanya dapat ditolerir dengan baik. Terapi kombinasi (interferon dan ribavirin) menunjukkan hilangnya virus setelah terapi selama 6 bulan. Efek samping dapat muncul dari kedua obat.
Sekarang ini, di Amerika Serikat hampir satu setengah transplantasi liver dilakukan untuk hepatitis-C tahap akhir. Tetapi, infeksi ulang HCV pada liver hasil transplantasi juga terjadi dengan angka yang tinggi. Untungnya, ini jarang memerlukan transplantasi kedua.
Orang-orang dengan hepatitis C sebaiknya melakukan vaksinasi hepatitis A dan B dan sebaiknya tidak minum alkoholCobalah untuk menjalankan pola hidup sehat dengan diet yang seimbang, olahraga, dan memiliki sikap yang positif. Hindari pekerjaan atau tugas yang berlebihan dan membuat depresi dan belajarlah untuk merawat diri Anda dan beristirahatlah bila Anda merasa lelah. Kerjakan pekerjaan atau tugas yang melelahkan fisik pada pagi hari saat level energi Anda sedang berada di puncaknya.
Interferon diberikan dengan dosis lebih tinggi, dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama. Hasil lebih baik bila diberikan pada penderita yang usianya kurang dari 45 tahun, tidak ada sirosis, dan penyakitnya belum berlangsung lama.
Tetapi pengobatan dengan interferon ini masih diperdebatkan hasilnya, karena belum ada kepastian 100% bahwa interferon dapat menyembuhkan, atau menghilangkan virus yang ada. Kurang lebih baru sekitar 50% dari kasus yang ada melaporkan bahwa virus Hepatitis C mereka hilang, atau sembuh.
Selain itu, Interferon memiliki dampak samping yang berbahaya, yaitu depresi, disamping efek-efek samping lainnya yang bersifat fisik. Itulah sebabnya tidak dianjurkan bagi para pecandu yang baru bersih untuk menjalani pengobatan dengan Interferon ini. Para pecandu pada umumnya memang orang-orang yang depresi, dan efek samping dari interferon ini sangat berbahaya bagi pemulihan si pecandu itu, terutama bila ia baru dalam pemulihan dan belum cukup stabil, kecenderungan untuk relapse akan besar sekali.
Sebaiknya sebelum menjalani pengobatan dengan interferon para pecandu terlebih dahulu berkonsultasi, baik dengan dokter maupun dengan konselornya, atau orang-orang yang lebih lama berada dalam pemulihan. Sebaiknya si pecandu telah memiliki dasar pemulihan yang cukup solid agar lebih bisa mengatasi dampak psikologis yang mungkin timbul saat pengobatan ataupun bila hasil setelah mengikuti pengobatan ternyata masih positif. Untuk itu, sebaiknya jika memang memutuskan untuk menjalani pengobatan, ia dikelilingi oleh orang-orang yang memahaminya misalnya sesama pecandu dalam pemulihan dengan waktu bersih dan umur pemulihan yang lebih lama darinya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kecenderungan untuk mengisolasi diri akan besar dan ini sebaiknya jangan dibiarkan berlarut-larut terlalu lama.Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pihak medis adalah dengan melakukan uji saring donor darah terhadap infeksi virus Hepatitis C.
Di kalangan pecandu sendiri, harm reduction dapat dilakukan dengan selalu menggunakan jarum suntik baru dan tidak saling tukar-menukar jarum suntik. Dan jika berhubungan seks pemakaian kondom sangat dianjurkan.
Ibu yang mengidap virus Hepatitis C sebaiknya tidak menyusui bayinya, dan melakukan tes Hepatits C pada bayinya setelah bayi berusia 18 bulan (masa inkubasi VHC pada bayi).
Hepatitis C adalah penyakit infeksi yang bisa tak terdeteksi pada seseorang selama puluhan tahun dan perlahan-lahan merusak organ hati (lever). Penyakit ini sekarang muncul sebagai salah satu masalah pemeliharaan kesehatan utama di Amerika Serikat, baik dalam segi hilangnya nyawa maupun tekanan pada ekonomi. Di Indonesia, Hepatitis C memang masih kalah terkenal dibandingkan dengan Hepatitis B. Padahal, penderitanya cukup banyak.
Biasanya orang-orang yang menderita penyakit hepatitis C tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit ini, karena memang tidak ada gejala-gejala khusus. Malah beberapa orang berpikir kalau mereka hanya terserang flu. Gejala yang biasa mereka rasakan antara lain demam, rasa lelah, muntah, sakit kepala, sakit perut atau hilangnya nafsu makan.
Meskipun penyakit ini dapat dideteksi melalui tes darah sederhana, para dokter, petugas asuransi, dan pejabat kesehatan pemerintah semua mengungkapkan keprihatinannya tentang makin maraknya orang yang terjangkit dan hanya sedikit korban yang tahu mereka terinfeksi:
• American Medical Association -yang mewakili para dokter- mengatakan, Hepatitis C kemungkinan akan menjadi “prioritas utama kesehatan masyarakat, karena jumlah penduduk yang meninggal akibat penyakit ini dan orang yang membutuhkan cangkok hati diperkirakan akan meningkat secara besar-besaran dalam dasawarsa berikut.”
• National Institute of Allergy and Infectious Diseases, satu divisi National Institutes of Health milik pemerintah, dengan agak cemas telah mengingatkan, “tanpa pengobatan yang lebih baik, angka kematian diperkirakan akan naik tiga kali lipat pada 2015 -lebih tinggi daripada tingkat kematian per tahun sekarang akibat AIDS.”
• Kelompok usaha asuransi terkenal, Alliance of American Insurers yang berkantor pusat di Downers Grove, Illinois, menyebut hepatitis C sebagai suatu “epidemi yang sedang berkembang.”
• American Liver Foundation, lembaga advokasi yang berkantor pusat di New York mengatakan, Hepatitis C merupakan penyebab utama transplantasi hati di Amerika Serikat. Permintaan hati yang telah jauh melampaui persediaan diperkirakan akan naik dalam jumlah besar selama 20 tahun berikut.
Angka statistik yang membingungkan ini mungkin sebagian berakar dalam perilaku yang berisiko tinggi. Enam puluh persen infeksi baru terjadi akibat pemakaian jarum bersama, demikian menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Atlanta. Menurut CDC, Hepatitis C adalah infeksi kronis yang ditularkan oleh darah yang paling umum di Amerika Serikat. Sekitar 4 juta orang terinfeksi, atau 1,8 persen dari seluruh penduduk. Dari jumlah ini, sekitar 2,7 juta orang diduga terinfeksi kronis - suatu tahap dalam penyakit ini ketika kerusakan hati telah terjadi atau hampir terjadi. Selain itu, Hepatitis C menimbulkan penyakit hati kronis dan kemungkinan mengakibatkan kematian di antara tujuh dari sepuluh orang yang terinfeksi.
Hepatitis C sering dicampuradukkan dengan dua jenis hepatitis yang tidak begitu mematikan lainnya, yang dikenal sebagai Hepatitis A dan B. Kedua jenis terakhir ini dapat dicegah melalui vaksinasi. Hepatitis A ditularkan terutama oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi. Itulah sebabnya orang yang sering bepergian ke negara-negara lain sering terinfeksi hepatitis ini. Meskipun dapat menimbulkan demam tinggi dan mengganggu fungsi hati sehingga mengakibatkan penyakit kuning - warna pucat kekuning-kuningan pada kulit dan bagian putih mata -penyakit ini jarang mengakibatkan penyakit hati kronis. Hampir semua orang pulih tanpa meninggalkan masalah yang berkepanjangan.
Hepatitis B muncul dalam darah seperti Hepatitis C. Penyakit ini menyebar melalui kontak dengan darah, air mani dan cairan vagina yang terinfeksi. Hubungan seks dengan orang yang terinfeksi atau penggunaan bersama jarum obat dapat menyebarkan penyakit ini. Gejalanya meliputi penyakit kuning, lemah, rasa sakit pada perut dan muntah. Namun, hampir semua penderitanya sembuh. Hanya 2 persen hingga 6 persen orang yang terkena penyakit ini mengalami kerusakan hati serius.
Hepatitis C ditularkan melalui kontak seksual, penggunaan obat-obatan dengan jarum, bahkan pemakaian bersama pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang telah terinfeksi. Para pakar yakin, kemungkinan ada faktor risiko lain yang memerlukan studi lebih lanjut, seperti penggunaan tato atau menusuk tubuh dalam lingkungan yang tidak bersih. CDC mengatakan, penerima transfusi darah sebelum 1992 -ketika persediaan darah Amerika secara nasional dimusnahkan karena darah itu ternoda -juga mempunyai risiko terjangkit penyakit ini.
Hepatitis C sangat membingungkan bagi pekerja perawatan kesehatan karena belum ada vaksinnya. Selain itu, hanya dalam sejumlah relatif kecil dari kasus yang baru-baru ini didiagnosa, barangkali sekitar 25 persen, pasien memperlihatkan gejalanya dan gejala ini pun mirip dengan gejala Hepatitis B. Kebanyakan kasus baru terjadi pada orang dewasa berusia muda, antara 25 hingga 40 tahun. Kecuali pasien sendiri meminta dilakukannya tes darah sederhana untuk memeriksa apakah muncul antibodi yang menjadi petunjuk adanya infeksi ini, Hepatitis C dapat tetap tidak ketahuan selama bertahun-tahun.
Menurut Dr. Peter Somani, mantan direktur Ohio Department of Health, “kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka telah mengidap Hepatitis C sampai mereka mengalami fase kronis dan kerusakan hati yang telah parah.” Begitu seseorang disembuhkan dengan memberikan obat-obat utama -yaitu gabungan dua obat Interferon-Alfa dan Ribavirin, penyakit ini dapat ditahan walau jarang mendapat kesembuhan.
Hati adalah salah satu organ tubuh yang paling penting. Organ ini berperan sebagai gudang untuk menimbun gula, lemak, vitamin dan gizi; memerangi racun dalam tubuh seperti alkohol; menyaring produk-produk yang tidak berguna lagi dari darah; dan bertindak sebagai semacam pengaruh seluruh bagian tubuh yang menjamin terjadinya keseimbangan zat-zat kimia dalam sistem itu. Kalau hati tidak sanggup berfungsi, tubuh akan rentan terhadap infeksi sekunder dan organ pada umumnya akan gagal berfungsi.
Usaha menemukan vaksin untuk penyakit Hepatitis C memang terus berlangsung. Tetapi tampaknya sampai saat ini belum ditemukan. Untuk itulah beberapa tips berikut ini mungkin bisa membantu Anda dalam usaha menjaga diri terhindar dari penyakit Hepatitis C:
1. Jangan gunakan benda-benda pribadi yang kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan. Contohnya: sikat gigi dan alat cukur. Jika ada luka sayatan segera bersihkan dan obati luka pada kulit, setelah itu balut lukanya.
2. Bicarakan dengan pasangan Anda mengenai virus Hepatitis C, serta penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Virus Hepatitis C (VHC) ini sebelumnya dikenal sebagai penyebab Hepatitis non-A non-B (NANB) pasca transfusi. Virus ini sangat bervariasi karena terdiri dari berbagai macam subtipe. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa VHC bukan saja merupakan penyebab terbanyak Hepatitis NANB pasca-transfusi, tetapi juga sebagai penyebab dari kasus-kasus hepatitis NANB sporadis atau “community acquired”.
Hepatitis C tersebar di seluruh dunia. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 100 juta pengidap kronis VHC. Dari segi epidemiologik, hepatitis C merupakan penyebab penyakit hati yang penting. Hal ini disebabkan selain menimbulkan hepatitis akut, sebagian besar penderitanya berlanjut menjadi hepatitis menahun dan pengidap yang merupakan sumber infeksi. Sekitar 20 dari penderita hepatitis menahun akan berkembang menjadi sirosis hati, yang sangat berpotensi menjadi kanker hati di kemudian hari. Waktu rata-rata diperlukan untuk berkembang menjadi sirosis hati adalah 17 tahun, dan menjadi kanker hati dalam waktu 20 tahun.
Tidak seluruh penederita hepatitis C menunjukkan gejala. Hanya sekitar 40% penderita yang timbul keluhan. Keluhan pun umumnya lebih ringan dari gejala yang ditimbulkan oleh Hepatitis A maupun B. Sisanya tidak memberikan gejala (asymptomatik). Pada hepatitis C kecenderungan untuk menjadi kronis dengan resiko menjadi sirosis dan kanker hati kemungkinannya sama dengan Hepatitis B. Seperti juga hepatitis B, pada hepatitis C juga terdapat pengidap sehat.
Cara Penularan
Penularan VHC terutama parenteral. Umumnya terjadi setelah mendapat kontak darah, seperti transfusi darah atau produk darah lainnya. Penggunaan bersama alat cukur atau sikat gigi dalam keluarga dapat menjadi salah satu cara penularan. Seperti HIV, karena virus ini adalah virus yang tinggal dalam darah, maka kontak darah merupakan cara penularan utama, seperti transfusi darah, tukar-menukar jarum suntik, peralatan dokter gigi yang tidak steril, dll. Selain itu virus ini juga dapat menular melalui cairan kelamin (saat hubungan seksual) dan ASI dari ibu pengidap Hepatitis C ke bayinya, meskipun memang angka kejadiannya lebih kecil daripada penularan melalui kontak darah.
Orang-orang yang mempunyai risiko tinggi terkena Hepatitis C adalah penderita penyakit yang memerlukan “cuci darah” (hemodialisa, kelompok pemakai obat secara intravena (Intravenous Drug User) atau pengguna narkoba suntikan, dan orang yang sering mendapat transfusi darah seperti penderita hemofilia dan thallasemia.
Di kalangan pecandu, penggunaan jarum suntik semakin meningkat. Seiring dengan meningkatnya penggunaan jarum suntik, meningkat secara tajam pula angka penularan virus Hepatitis C. Ini dikarenakan kebiasaan tukar menukar jarum suntik yang dilakukan oleh para pengguna narkoba suntikan. Sekarang ini, jumlah pengidap Hepatitis C sudah mencapai 90 % dari keseluruhan jumlah pecandu.
Gejala
Gejala Hepatitis C mirip dengan infeksi virus hepatitis B. Masa inkubasi berkisar antara 15-150 hari dengan rata-rata 8 minggu. Keluhan dan gejala yang ada antara lain kuning, air seni berwarna gelap, mual, mutah, kembung, tidak nafsu makan, rasa lelah, demam, mengigil, sakit kepala, sakit perut, mencret, sakit pada sendi dan otot, serta rasa pegal-pegal.
Gejala yang ditimbulkan oleh hepatitis C umumnya lebih ringan dibandingkan dengan hepatitis B. Kadang-kadang ditemukan penderita yang tanpa gejala. Nilai SGPT dan SGOT tidak setinggi pada hepatitis A dan B, tetapi dalam perjalanan penyakitnya terjadi kenaikan dan penurunan yang berfluktuasi, keadaan yang tidak ditemukan pada hepatitis virus lain. Setiap peningkatan enzim ini ada kaitannya dengan episode viremia.
Diagnosa
Diagnosa hepatitis C umumnya diperoleh dengan pemeriksaan berikut:
Pemeriksaan IgM anti-VHC dengan cara Elisa
IgM anti-VHC + menunjukkan adanya antibodi terhadap VHC. Antibodi ini tidak menyatakan kekebalan tetapi menadakan adanya partikel virus. Pemeriksaan ini berguna untuk mendiagnosa infeksi akut hepatitis C, mengetahui aktivitas VHC pada infeksi kronis, dan untuk mengetahui respon pasien hepatitis C kronis terhadap pengobatan interferon.
Pemeriksaan VHC RNA dengan cara biomolekuler (PCR)
Manfaat pemeriksaan ini antara lain untuk memastikan apakah penderita benar-benar pengidap VHC, menentukan prognosis, dan mengukur respons penderita setelah pengobatan dengan interferon.
Prognosa
Sekitar 80-90% penderita yang terkena infeksi akut hepatitis C akan berlanjut penyakitnya menjadi penyakit kronis. Kejadian menjadi kronis jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan hepatitis B. Dilaporkan bahwa sekitar 20% penderita akan mengalami sirosis hati yang berlanjut menjadi kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Selain itu, ada beberapa kasus diamana hepatitis C dapat menjadi hepatitis fulminan bila terjadi superinfeksi dengan virus hepatitis B kronis.
Pengobatan
Baru-baru ini, ada tiga jenis interveron dan suatu kombinasi interferon dan ribavirin yang digunakan untuk mengobati hepatitis C. Pasien yang akan dirawat dapat ditentukan melalui pemeriksaan biokimiawi, virologi, dan bila perlu, biopsi liver, bukan hanya lewat ada atau tidaknya gejala.
Interferon harus diberikan melalui suntikan, dan memiliki beberapa efek samping termasuk gejala yang mirip flu: sakit kepala, demam, merasa lelah, hilangnya nafsu makan, mual, muntah, depresi, dan rambut rontok. Interferon juga dapat mengganggu /mengacaukan produksi sel darah putih dan platelet darah dengan menurunkan/melemahkan sumsum tulang. Tes darah secara periodik dibutuhkan untuk memonitor sel darah and platelet.
Ribavirin dapat menyebabkan anemia parah yang datang secara tiba-tiba dan kecacatan pada janin sehingga kehamilan sebainya dihindari oleh wanita yang sedang menjalani perawatan dan selama 6 bulan setelah perawatan. Tingkat keparahan dan jenis efek samping berbeda-beda bagi setiap orang. Perawatan bagi anak-anak dengan virus Hepatitis C masih dalam penelitian.
Meskipun 50-60% pasien menunjukkan respon terhadap perawatan pada awalnya, hilangnya virus untuk jangka waktu yang bertahan lama hanya terjadi pada sekitar 10-40% pasien. Perawatan dapat diperpanjang dan diberikan untuk kedua kalinya bagi yang relapse setelah perawatan awal. Perawatan ulang dengan konsensus interferon yang dirancang secara biologis saja dapat menghilangkan virus pada 58% pasien yang dirawat selama satu tahun. Efek samping dapat terjadi tetapi pengobatannya sendiri biasanya dapat ditolerir dengan baik. Terapi kombinasi (interferon dan ribavirin) menunjukkan hilangnya virus setelah terapi selama 6 bulan. Efek samping dapat muncul dari kedua obat.
Sekarang ini, di Amerika Serikat hampir satu setengah transplantasi liver dilakukan untuk hepatitis-C tahap akhir. Tetapi, infeksi ulang HCV pada liver hasil transplantasi juga terjadi dengan angka yang tinggi. Untungnya, ini jarang memerlukan transplantasi kedua.
Orang-orang dengan hepatitis C sebaiknya melakukan vaksinasi hepatitis A dan B dan sebaiknya tidak minum alkoholCobalah untuk menjalankan pola hidup sehat dengan diet yang seimbang, olahraga, dan memiliki sikap yang positif. Hindari pekerjaan atau tugas yang berlebihan dan membuat depresi dan belajarlah untuk merawat diri Anda dan beristirahatlah bila Anda merasa lelah. Kerjakan pekerjaan atau tugas yang melelahkan fisik pada pagi hari saat level energi Anda sedang berada di puncaknya.
Interferon diberikan dengan dosis lebih tinggi, dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama. Hasil lebih baik bila diberikan pada penderita yang usianya kurang dari 45 tahun, tidak ada sirosis, dan penyakitnya belum berlangsung lama.
Tetapi pengobatan dengan interferon ini masih diperdebatkan hasilnya, karena belum ada kepastian 100% bahwa interferon dapat menyembuhkan, atau menghilangkan virus yang ada. Kurang lebih baru sekitar 50% dari kasus yang ada melaporkan bahwa virus Hepatitis C mereka hilang, atau sembuh.
Selain itu, Interferon memiliki dampak samping yang berbahaya, yaitu depresi, disamping efek-efek samping lainnya yang bersifat fisik. Itulah sebabnya tidak dianjurkan bagi para pecandu yang baru bersih untuk menjalani pengobatan dengan Interferon ini. Para pecandu pada umumnya memang orang-orang yang depresi, dan efek samping dari interferon ini sangat berbahaya bagi pemulihan si pecandu itu, terutama bila ia baru dalam pemulihan dan belum cukup stabil, kecenderungan untuk relapse akan besar sekali.
Sebaiknya sebelum menjalani pengobatan dengan interferon para pecandu terlebih dahulu berkonsultasi, baik dengan dokter maupun dengan konselornya, atau orang-orang yang lebih lama berada dalam pemulihan. Sebaiknya si pecandu telah memiliki dasar pemulihan yang cukup solid agar lebih bisa mengatasi dampak psikologis yang mungkin timbul saat pengobatan ataupun bila hasil setelah mengikuti pengobatan ternyata masih positif. Untuk itu, sebaiknya jika memang memutuskan untuk menjalani pengobatan, ia dikelilingi oleh orang-orang yang memahaminya misalnya sesama pecandu dalam pemulihan dengan waktu bersih dan umur pemulihan yang lebih lama darinya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Kecenderungan untuk mengisolasi diri akan besar dan ini sebaiknya jangan dibiarkan berlarut-larut terlalu lama.Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pihak medis adalah dengan melakukan uji saring donor darah terhadap infeksi virus Hepatitis C.
Di kalangan pecandu sendiri, harm reduction dapat dilakukan dengan selalu menggunakan jarum suntik baru dan tidak saling tukar-menukar jarum suntik. Dan jika berhubungan seks pemakaian kondom sangat dianjurkan.
Ibu yang mengidap virus Hepatitis C sebaiknya tidak menyusui bayinya, dan melakukan tes Hepatits C pada bayinya setelah bayi berusia 18 bulan (masa inkubasi VHC pada bayi).
Hepatitis C adalah penyakit infeksi yang bisa tak terdeteksi pada seseorang selama puluhan tahun dan perlahan-lahan merusak organ hati (lever). Penyakit ini sekarang muncul sebagai salah satu masalah pemeliharaan kesehatan utama di Amerika Serikat, baik dalam segi hilangnya nyawa maupun tekanan pada ekonomi. Di Indonesia, Hepatitis C memang masih kalah terkenal dibandingkan dengan Hepatitis B. Padahal, penderitanya cukup banyak.
Biasanya orang-orang yang menderita penyakit hepatitis C tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit ini, karena memang tidak ada gejala-gejala khusus. Malah beberapa orang berpikir kalau mereka hanya terserang flu. Gejala yang biasa mereka rasakan antara lain demam, rasa lelah, muntah, sakit kepala, sakit perut atau hilangnya nafsu makan.
Meskipun penyakit ini dapat dideteksi melalui tes darah sederhana, para dokter, petugas asuransi, dan pejabat kesehatan pemerintah semua mengungkapkan keprihatinannya tentang makin maraknya orang yang terjangkit dan hanya sedikit korban yang tahu mereka terinfeksi:
• American Medical Association -yang mewakili para dokter- mengatakan, Hepatitis C kemungkinan akan menjadi “prioritas utama kesehatan masyarakat, karena jumlah penduduk yang meninggal akibat penyakit ini dan orang yang membutuhkan cangkok hati diperkirakan akan meningkat secara besar-besaran dalam dasawarsa berikut.”
• National Institute of Allergy and Infectious Diseases, satu divisi National Institutes of Health milik pemerintah, dengan agak cemas telah mengingatkan, “tanpa pengobatan yang lebih baik, angka kematian diperkirakan akan naik tiga kali lipat pada 2015 -lebih tinggi daripada tingkat kematian per tahun sekarang akibat AIDS.”
• Kelompok usaha asuransi terkenal, Alliance of American Insurers yang berkantor pusat di Downers Grove, Illinois, menyebut hepatitis C sebagai suatu “epidemi yang sedang berkembang.”
• American Liver Foundation, lembaga advokasi yang berkantor pusat di New York mengatakan, Hepatitis C merupakan penyebab utama transplantasi hati di Amerika Serikat. Permintaan hati yang telah jauh melampaui persediaan diperkirakan akan naik dalam jumlah besar selama 20 tahun berikut.
Angka statistik yang membingungkan ini mungkin sebagian berakar dalam perilaku yang berisiko tinggi. Enam puluh persen infeksi baru terjadi akibat pemakaian jarum bersama, demikian menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Atlanta. Menurut CDC, Hepatitis C adalah infeksi kronis yang ditularkan oleh darah yang paling umum di Amerika Serikat. Sekitar 4 juta orang terinfeksi, atau 1,8 persen dari seluruh penduduk. Dari jumlah ini, sekitar 2,7 juta orang diduga terinfeksi kronis - suatu tahap dalam penyakit ini ketika kerusakan hati telah terjadi atau hampir terjadi. Selain itu, Hepatitis C menimbulkan penyakit hati kronis dan kemungkinan mengakibatkan kematian di antara tujuh dari sepuluh orang yang terinfeksi.
Hepatitis C sering dicampuradukkan dengan dua jenis hepatitis yang tidak begitu mematikan lainnya, yang dikenal sebagai Hepatitis A dan B. Kedua jenis terakhir ini dapat dicegah melalui vaksinasi. Hepatitis A ditularkan terutama oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi. Itulah sebabnya orang yang sering bepergian ke negara-negara lain sering terinfeksi hepatitis ini. Meskipun dapat menimbulkan demam tinggi dan mengganggu fungsi hati sehingga mengakibatkan penyakit kuning - warna pucat kekuning-kuningan pada kulit dan bagian putih mata -penyakit ini jarang mengakibatkan penyakit hati kronis. Hampir semua orang pulih tanpa meninggalkan masalah yang berkepanjangan.
Hepatitis B muncul dalam darah seperti Hepatitis C. Penyakit ini menyebar melalui kontak dengan darah, air mani dan cairan vagina yang terinfeksi. Hubungan seks dengan orang yang terinfeksi atau penggunaan bersama jarum obat dapat menyebarkan penyakit ini. Gejalanya meliputi penyakit kuning, lemah, rasa sakit pada perut dan muntah. Namun, hampir semua penderitanya sembuh. Hanya 2 persen hingga 6 persen orang yang terkena penyakit ini mengalami kerusakan hati serius.
Hepatitis C ditularkan melalui kontak seksual, penggunaan obat-obatan dengan jarum, bahkan pemakaian bersama pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang telah terinfeksi. Para pakar yakin, kemungkinan ada faktor risiko lain yang memerlukan studi lebih lanjut, seperti penggunaan tato atau menusuk tubuh dalam lingkungan yang tidak bersih. CDC mengatakan, penerima transfusi darah sebelum 1992 -ketika persediaan darah Amerika secara nasional dimusnahkan karena darah itu ternoda -juga mempunyai risiko terjangkit penyakit ini.
Hepatitis C sangat membingungkan bagi pekerja perawatan kesehatan karena belum ada vaksinnya. Selain itu, hanya dalam sejumlah relatif kecil dari kasus yang baru-baru ini didiagnosa, barangkali sekitar 25 persen, pasien memperlihatkan gejalanya dan gejala ini pun mirip dengan gejala Hepatitis B. Kebanyakan kasus baru terjadi pada orang dewasa berusia muda, antara 25 hingga 40 tahun. Kecuali pasien sendiri meminta dilakukannya tes darah sederhana untuk memeriksa apakah muncul antibodi yang menjadi petunjuk adanya infeksi ini, Hepatitis C dapat tetap tidak ketahuan selama bertahun-tahun.
Menurut Dr. Peter Somani, mantan direktur Ohio Department of Health, “kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka telah mengidap Hepatitis C sampai mereka mengalami fase kronis dan kerusakan hati yang telah parah.” Begitu seseorang disembuhkan dengan memberikan obat-obat utama -yaitu gabungan dua obat Interferon-Alfa dan Ribavirin, penyakit ini dapat ditahan walau jarang mendapat kesembuhan.
Hati adalah salah satu organ tubuh yang paling penting. Organ ini berperan sebagai gudang untuk menimbun gula, lemak, vitamin dan gizi; memerangi racun dalam tubuh seperti alkohol; menyaring produk-produk yang tidak berguna lagi dari darah; dan bertindak sebagai semacam pengaruh seluruh bagian tubuh yang menjamin terjadinya keseimbangan zat-zat kimia dalam sistem itu. Kalau hati tidak sanggup berfungsi, tubuh akan rentan terhadap infeksi sekunder dan organ pada umumnya akan gagal berfungsi.
Usaha menemukan vaksin untuk penyakit Hepatitis C memang terus berlangsung. Tetapi tampaknya sampai saat ini belum ditemukan. Untuk itulah beberapa tips berikut ini mungkin bisa membantu Anda dalam usaha menjaga diri terhindar dari penyakit Hepatitis C:
1. Jangan gunakan benda-benda pribadi yang kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan. Contohnya: sikat gigi dan alat cukur. Jika ada luka sayatan segera bersihkan dan obati luka pada kulit, setelah itu balut lukanya.
2. Bicarakan dengan pasangan Anda mengenai virus Hepatitis C, serta penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Hepatitis B
Hepatitis B adalah peradangan pada hati. Selain tipe A, virus hepatitis B paling sering ditemui. Sebagian penderita hepatitis B akan sembuh sempurna dan mempunyai kekebalan seumur hidup, tapi sebagian lagi gagal memperoleh kekebalan. Orang itu akan terus menerus membawa virus hepatitis B dan bisa menjadi sumber penularan. Penularannya dapat terjadi lewat jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia. Hepatitis B sangat beresiko bagi pecandu narkotika dan orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.
Gejala hepatitis B adalah lemah, lesu, sakit otot, demam ringan, mual, kurang nafsu makan, mata dan kulit kuning dan air kencing berwarna gelap.
Pengobatan penyakit ini dilakukan dengan interferon alfa-2b, lamivudine dan imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B (diberikan 14 hari setelah paparan). Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun lalu.
Untuk mencegah penularan hepatitis B adalah dengan imunisasi hepatitis B terhadap bayi yang baru lahir, menghindari hubungan badan dengan orang yang terinfeksi, menghindari penyalah-gunaan obat dan pemakaian bersama jarum suntik, menghindari pemakaian bersama sikat gigi ataupun alat cukur dan memastikan alat suci-hama bila ingin bertatto, melubangi terlinga atau tusuk jarum.
Gejala hepatitis B adalah lemah, lesu, sakit otot, demam ringan, mual, kurang nafsu makan, mata dan kulit kuning dan air kencing berwarna gelap.
Pengobatan penyakit ini dilakukan dengan interferon alfa-2b, lamivudine dan imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B (diberikan 14 hari setelah paparan). Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun lalu.
Untuk mencegah penularan hepatitis B adalah dengan imunisasi hepatitis B terhadap bayi yang baru lahir, menghindari hubungan badan dengan orang yang terinfeksi, menghindari penyalah-gunaan obat dan pemakaian bersama jarum suntik, menghindari pemakaian bersama sikat gigi ataupun alat cukur dan memastikan alat suci-hama bila ingin bertatto, melubangi terlinga atau tusuk jarum.
Hepatitis A
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik.
Masa inkubasi 30 hari. Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.
Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
Masa inkubasi 30 hari. Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.
Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
HEPATITIS
Kanker hati adalah kanker yang sering dijumpai di Indonesia. Kanker ini dihubungkan dengan infeksi hepatitis B atau C. Artinya, pada umumnya penderita kanker hati pernah terinfeksi hepatitis B atau C.
Istilah “hepatitis” sendiri dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut (hepatitis A), bisa kronik (hepatitis B dan C) dan bisa juga kemudian menjadi kanker hati (hepatitis B dan C).
Virus yang menyebabkan penyakit ini berada dalam cairan tubuh manusia yang sewaktu-waktu bisa ditularkan ke orang lain. Memang sebagian orang yang terinfeksi virus ini bisa sembuh dengan sendirinya, namun demikian virus ini akan menetap dalam tubuh seumur hidup.
Penyakit hepatitis B dan C sering dialami penduduk Indonesia (Peta Penyebaran Penyakit Hepatitis di Indonesia, 2002: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m9_s2_i231_b.pdf). Kedua penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh, seperti lewat hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah. Pada umumnya, saat ini transfusi darah sudah aman: darah yang akan diberikan diskrining hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Dengan demikian kemungkinan penularan Hepatitis dan HIV melalui transfusi darah sudah menjadi kecil.
Istilah “hepatitis” sendiri dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut (hepatitis A), bisa kronik (hepatitis B dan C) dan bisa juga kemudian menjadi kanker hati (hepatitis B dan C).
Virus yang menyebabkan penyakit ini berada dalam cairan tubuh manusia yang sewaktu-waktu bisa ditularkan ke orang lain. Memang sebagian orang yang terinfeksi virus ini bisa sembuh dengan sendirinya, namun demikian virus ini akan menetap dalam tubuh seumur hidup.
Penyakit hepatitis B dan C sering dialami penduduk Indonesia (Peta Penyebaran Penyakit Hepatitis di Indonesia, 2002: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m9_s2_i231_b.pdf). Kedua penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh, seperti lewat hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah. Pada umumnya, saat ini transfusi darah sudah aman: darah yang akan diberikan diskrining hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Dengan demikian kemungkinan penularan Hepatitis dan HIV melalui transfusi darah sudah menjadi kecil.
Apa itu Stroke
Penyakit stroke adalah gangguan fungsi otak akibat aliran darah ke otak
mengalami gangguan (berkurang). Akibatnya, nutrisi dan oksigen yang
dbutuhkan otak tidak terpenuhi dengan baik. Penyebab stroke ada 2 macam,
yaitu adanya sumbatan di pembuluh darah (trombus), dan adanya pembuluh darah
yang pecah.
Umumnya stroke diderita oleh orang tua, karena proses penuaan menyebabkan
pembuluh darah mengeras dan menyempit (arteriosclerosis) dan adanya lemak yang
menyumbat pembuluh darah (atherosclerosis). Tapi beberapa kasus terakhir
menunjukkan peningkatan kasus stroke yang
terjadi pada usia remaja dan usia produktif (15 - 40 tahun). Pada golongan
ini, penyebab utama stroke adalah stress, penyalahgunaan narkoba, alkohol,
faktor keturunan, dan gaya hidup yang tidak sehat.
Penyebab stroke
Pada kasus stroke usia remaja, faktor genetika (keturunan) merupakan
penyebab utama terjadinya stroke. Sering ditemui kasus stroke yang
disebabkan oleh pembuluh darah yang rapuh dan mudah pecah, atau kelainan
sistem darah seperti penyakit hemofilia dan thalassemia yang diturunkan oleh
orang tua penderita. Sedangkan jika ada anggota
keluarga yang menderita diabetes (penyakit kencing manis), hipertensi
(tekanan darah tinggi), dan penyakit jantung, kemungkinan terkena stroke
menjadi lebih besar pada anggota keluarga lainnya.
Penyebab serangan stroke lainnya adalah makanan dengan kadar kolesterol
jahat (Low Density Lipoprotein) yang sangat tinggi. Koleserol jahat ini banyak
terdapat pada junk food, atau makanan cepat saji. Selain itu, penyebab
terjadinya serangan stroke
lainnya adalah kebiasaan malas berolah raga dan bergerak, banyak minum
alkohol, merokok, penggunaan narkotika dan zat adiktif, waktu istirahat
yang sangat kurang, serta stress yang berkepanjangan. Pecahnya pembuluh
darah juga sering diakibatkan karena penyakit tekanan darah tinggi
(hipertensi).
Gejala terjadinya serangan stroke
Gejala awal stroke umumnya pusing, kepala serasa berputar (seperti
penyakit vertigo), kemudian disusul dengan gangguan berbicara dan
menggerakkan otot mulut. Gejala lainnya adalah tergangguanya sensor perasa
(tidak bisa merasakan apapun , seperti dicubit atau ditusuk jarum) dan
tubuh terasa lumpuh sebelah, serta tidak adanya gerakan refleks. Sering
juga terjadi buta mendadak atau kaburnya pandangan (karena suplai darah
dan oksigen ke mata berkurang drastis), terganggunya sistem rasa di mulut
dan otot-otot mulut (sehingga sering dijumpai wajah penderita menjadi
mencong), lumpuhnya otot-otot tubuh yang lain, dan terganggunya sistem
memory dan emosi. Sering dijumpai penderita tidak dapat menghentikan
tangisnya karena lumpuhnya kontrol otak pada sistem emosinya. Hal itu
membuat penderita stroke berlaku seperti penderita penyakit kejiwaan,
padahal bukan. Hal-hal seperti ini yang perlu dimengerti oleh keluarga
penderita.
Proses penyembuhan
Ada 2 proses penyembuhan utama yang harus dijalani penderita. Pertama
adalah penyembuhan dengan obat-obatan di rumah sakit. Kontrol yang ketat
harus dilakukan untuk menjaga agar kadar kolesterol jahat dapat diturunkan
dan tidak bertambah naik. Selain itu, penderita juga dilarang makan
makanan yang dapat memicu terjadinya serangan stroke seperti junk food dan
garam (dapat memicu hipertensi).
Proses penyembuhan kedua adalah fisiotherapy, yaitu latihan otot-otot untuk
mengembalikan fungsi otot dan fungsi
komunikasi agar mendekati kondisi semula. Fisiotherapi dilakukan bersama
instruktur fisiotherapi, dan pasien harus taat pada latihan yang
dilakukan. Jika fisiotherapi ini tidak dijalani dengan sungguh-sungguh,
maka dapat terjadi kelumpuhan permanen pada anggota tubuh yang pernah
mengalami kelumpuhan.
Kesembuhan pada penderita stroke sangat bervariasi. Ada yang bisa sembuh
sempurna (100 %), ada pula yang cuma 50 % saja. Kesembuhan ini tergantung
dari parah atau tidaknya serangan stroke, kondisi tubuh penderita,
ketaatan penderita dalam menjalani proses penyembuhan, ketekunan dan
semangat penderita untuk sembuh, serta dukungan dan pengertian dari
seluruh anggota keluarga penderita. Seringkali ditemui bahwa penderita
stroke dapat pulih kembali, tetapi menderita depresi hebat karena keluarga
mereka tidak mau mengerti dan merasa sangat terganggu dengan penyakit yang
dideritanya (seperti sikap tidak menerima keadaan penderita, perlakuan
kasar karena harus membersihkan kotoran penderita, menyerahkan penderita
kepada suster yang juga memperlakukan penderita dengan kasar, dan
sebagainya). Hal ini yang harus dihindarkan jika ada anggota keluarga yang
menderita serangan stroke.
Sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak, penyakit stroke hanya
diidentikkan dengan kelumpuhan anggota gerak yang menyerang secara
tiba-tiba serta terjadinya penurunan kesadaran.
Justru gejala tersamar dari stroke kurang diwaspadai, seperti gangguan
bahasa, gangguan memori, gangguan emosi, gangguan perilaku, dan demensia
(pikun). Padahal, deteksi dini terhadap gejala stroke merupakan hal yang
utama, sebab sampai saat ini belum semua pelayanan kesehatan memiliki alat
mutakhir yang mampu mendeteksi stroke.
Demikian penjelasan Dodik Tugasworo SpS, staf bagian Neurologi Rumah Sakit
Umum (RSU) Dr Kariadi, Semarang, dalam seminar Stroke dan Rehabilitasi
yang digelar di Wisma Katarina RS Elizabeth, Semarang, Sabtu (22/2).
Pembicara lain adalah ahli Patologis Klinis dari RSU Dr Kariadi AP Pradana
SpPK, staf bagian Neurologi RSU Dr Kariadi, Martinus Julianto SpS, dan
ahli rehabilitasi medik RS Elizabeth E Endang Sri Mariani SpRM.
Di Amerika Serikat (AS), negara yang maju teknologinya, penyakit stroke
merupakan penyebab kematian kedua terbesar setelah penyakit jantung.
Setiap tahunnya diperkirakan 750.000 orang menderita stroke dengan angka
kematian melebihi 150.000 orang per tahun dan biaya riset 46 juta dollar
AS per tahun.
Sepertiga penderita meninggal saat serangan awal (fase akut), sepertiga
lagi mengalami stroke berulang, dan dari 50 persen yang selamat akan
mengalami kecacatan. Dari satu juta populasi, dilaporkan sekitar 2.400
orang menderita stroke dan sekitar 1.800 orang akan kambuh kembali.
Di Indonesia, data yang valid tentang prevalensi penderita stroke memang
belum ada. Namun sebagai contoh saja, di bangsal saraf RSU Dr Kariadi,
setiap bulannya menerima pasien stroke antara 40-60 orang. Sedangkan di RS
Elizabeth, tahun 2001 terdapat 152 penderita stroke, dan pada tahun 2002
menjadi 339 penderita stroke.
Pola modern
Peningkatan angka penderita stroke ini disebabkan pola hidup modern yang
tidak seimbang. Kurang berolahraga, namun pola makan tidak sehat dan sarat
dengan makanan junk food. Bahkan, stroke tak lagi cuma menyerang mereka
yang berumur 40 tahun ke atas, tetapi remaja dan anak-anak pun tak luput
dari serangan penyakit ini.
"Jika salah satu dari keluarga kita terkena stroke, bawalah segera ke
dokter. Penanganan yang cepat tidak boleh lebih dari 6 hingga 12 jam.
Bahkan, di luar negeri penanganan tidak boleh lebih dari tiga jam. Jika
serangan stroke tidak segera diatasi, akan terjadi dampak bagi kesembuhan
sang penderita," jelas Dodik
Martinus menjelaskan, stroke dapat dibagi dua bagian, yaitu stroke
perdarahan dan stroke sumbatan. Sekitar 80 persen penderita mengalami
stroke sumbatan dan hanya sedikit penderita yang mengalami stroke
perdarahan. Keduanya memiliki kelemahan, yaitu stroke perdarahan pada
tahap akut dapat mengakibatkan angka kematian (mortalitas) yang tinggi.
Sedangkan stroke sumbatan, yang sulit ditangani adalah gejala sisanya.
Stroke sumbatan mengakibatkan banyak sel otak yang mati. (VIN)
Sumber : Free Lists
mengalami gangguan (berkurang). Akibatnya, nutrisi dan oksigen yang
dbutuhkan otak tidak terpenuhi dengan baik. Penyebab stroke ada 2 macam,
yaitu adanya sumbatan di pembuluh darah (trombus), dan adanya pembuluh darah
yang pecah.
Umumnya stroke diderita oleh orang tua, karena proses penuaan menyebabkan
pembuluh darah mengeras dan menyempit (arteriosclerosis) dan adanya lemak yang
menyumbat pembuluh darah (atherosclerosis). Tapi beberapa kasus terakhir
menunjukkan peningkatan kasus stroke yang
terjadi pada usia remaja dan usia produktif (15 - 40 tahun). Pada golongan
ini, penyebab utama stroke adalah stress, penyalahgunaan narkoba, alkohol,
faktor keturunan, dan gaya hidup yang tidak sehat.
Penyebab stroke
Pada kasus stroke usia remaja, faktor genetika (keturunan) merupakan
penyebab utama terjadinya stroke. Sering ditemui kasus stroke yang
disebabkan oleh pembuluh darah yang rapuh dan mudah pecah, atau kelainan
sistem darah seperti penyakit hemofilia dan thalassemia yang diturunkan oleh
orang tua penderita. Sedangkan jika ada anggota
keluarga yang menderita diabetes (penyakit kencing manis), hipertensi
(tekanan darah tinggi), dan penyakit jantung, kemungkinan terkena stroke
menjadi lebih besar pada anggota keluarga lainnya.
Penyebab serangan stroke lainnya adalah makanan dengan kadar kolesterol
jahat (Low Density Lipoprotein) yang sangat tinggi. Koleserol jahat ini banyak
terdapat pada junk food, atau makanan cepat saji. Selain itu, penyebab
terjadinya serangan stroke
lainnya adalah kebiasaan malas berolah raga dan bergerak, banyak minum
alkohol, merokok, penggunaan narkotika dan zat adiktif, waktu istirahat
yang sangat kurang, serta stress yang berkepanjangan. Pecahnya pembuluh
darah juga sering diakibatkan karena penyakit tekanan darah tinggi
(hipertensi).
Gejala terjadinya serangan stroke
Gejala awal stroke umumnya pusing, kepala serasa berputar (seperti
penyakit vertigo), kemudian disusul dengan gangguan berbicara dan
menggerakkan otot mulut. Gejala lainnya adalah tergangguanya sensor perasa
(tidak bisa merasakan apapun , seperti dicubit atau ditusuk jarum) dan
tubuh terasa lumpuh sebelah, serta tidak adanya gerakan refleks. Sering
juga terjadi buta mendadak atau kaburnya pandangan (karena suplai darah
dan oksigen ke mata berkurang drastis), terganggunya sistem rasa di mulut
dan otot-otot mulut (sehingga sering dijumpai wajah penderita menjadi
mencong), lumpuhnya otot-otot tubuh yang lain, dan terganggunya sistem
memory dan emosi. Sering dijumpai penderita tidak dapat menghentikan
tangisnya karena lumpuhnya kontrol otak pada sistem emosinya. Hal itu
membuat penderita stroke berlaku seperti penderita penyakit kejiwaan,
padahal bukan. Hal-hal seperti ini yang perlu dimengerti oleh keluarga
penderita.
Proses penyembuhan
Ada 2 proses penyembuhan utama yang harus dijalani penderita. Pertama
adalah penyembuhan dengan obat-obatan di rumah sakit. Kontrol yang ketat
harus dilakukan untuk menjaga agar kadar kolesterol jahat dapat diturunkan
dan tidak bertambah naik. Selain itu, penderita juga dilarang makan
makanan yang dapat memicu terjadinya serangan stroke seperti junk food dan
garam (dapat memicu hipertensi).
Proses penyembuhan kedua adalah fisiotherapy, yaitu latihan otot-otot untuk
mengembalikan fungsi otot dan fungsi
komunikasi agar mendekati kondisi semula. Fisiotherapi dilakukan bersama
instruktur fisiotherapi, dan pasien harus taat pada latihan yang
dilakukan. Jika fisiotherapi ini tidak dijalani dengan sungguh-sungguh,
maka dapat terjadi kelumpuhan permanen pada anggota tubuh yang pernah
mengalami kelumpuhan.
Kesembuhan pada penderita stroke sangat bervariasi. Ada yang bisa sembuh
sempurna (100 %), ada pula yang cuma 50 % saja. Kesembuhan ini tergantung
dari parah atau tidaknya serangan stroke, kondisi tubuh penderita,
ketaatan penderita dalam menjalani proses penyembuhan, ketekunan dan
semangat penderita untuk sembuh, serta dukungan dan pengertian dari
seluruh anggota keluarga penderita. Seringkali ditemui bahwa penderita
stroke dapat pulih kembali, tetapi menderita depresi hebat karena keluarga
mereka tidak mau mengerti dan merasa sangat terganggu dengan penyakit yang
dideritanya (seperti sikap tidak menerima keadaan penderita, perlakuan
kasar karena harus membersihkan kotoran penderita, menyerahkan penderita
kepada suster yang juga memperlakukan penderita dengan kasar, dan
sebagainya). Hal ini yang harus dihindarkan jika ada anggota keluarga yang
menderita serangan stroke.
Sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak, penyakit stroke hanya
diidentikkan dengan kelumpuhan anggota gerak yang menyerang secara
tiba-tiba serta terjadinya penurunan kesadaran.
Justru gejala tersamar dari stroke kurang diwaspadai, seperti gangguan
bahasa, gangguan memori, gangguan emosi, gangguan perilaku, dan demensia
(pikun). Padahal, deteksi dini terhadap gejala stroke merupakan hal yang
utama, sebab sampai saat ini belum semua pelayanan kesehatan memiliki alat
mutakhir yang mampu mendeteksi stroke.
Demikian penjelasan Dodik Tugasworo SpS, staf bagian Neurologi Rumah Sakit
Umum (RSU) Dr Kariadi, Semarang, dalam seminar Stroke dan Rehabilitasi
yang digelar di Wisma Katarina RS Elizabeth, Semarang, Sabtu (22/2).
Pembicara lain adalah ahli Patologis Klinis dari RSU Dr Kariadi AP Pradana
SpPK, staf bagian Neurologi RSU Dr Kariadi, Martinus Julianto SpS, dan
ahli rehabilitasi medik RS Elizabeth E Endang Sri Mariani SpRM.
Di Amerika Serikat (AS), negara yang maju teknologinya, penyakit stroke
merupakan penyebab kematian kedua terbesar setelah penyakit jantung.
Setiap tahunnya diperkirakan 750.000 orang menderita stroke dengan angka
kematian melebihi 150.000 orang per tahun dan biaya riset 46 juta dollar
AS per tahun.
Sepertiga penderita meninggal saat serangan awal (fase akut), sepertiga
lagi mengalami stroke berulang, dan dari 50 persen yang selamat akan
mengalami kecacatan. Dari satu juta populasi, dilaporkan sekitar 2.400
orang menderita stroke dan sekitar 1.800 orang akan kambuh kembali.
Di Indonesia, data yang valid tentang prevalensi penderita stroke memang
belum ada. Namun sebagai contoh saja, di bangsal saraf RSU Dr Kariadi,
setiap bulannya menerima pasien stroke antara 40-60 orang. Sedangkan di RS
Elizabeth, tahun 2001 terdapat 152 penderita stroke, dan pada tahun 2002
menjadi 339 penderita stroke.
Pola modern
Peningkatan angka penderita stroke ini disebabkan pola hidup modern yang
tidak seimbang. Kurang berolahraga, namun pola makan tidak sehat dan sarat
dengan makanan junk food. Bahkan, stroke tak lagi cuma menyerang mereka
yang berumur 40 tahun ke atas, tetapi remaja dan anak-anak pun tak luput
dari serangan penyakit ini.
"Jika salah satu dari keluarga kita terkena stroke, bawalah segera ke
dokter. Penanganan yang cepat tidak boleh lebih dari 6 hingga 12 jam.
Bahkan, di luar negeri penanganan tidak boleh lebih dari tiga jam. Jika
serangan stroke tidak segera diatasi, akan terjadi dampak bagi kesembuhan
sang penderita," jelas Dodik
Martinus menjelaskan, stroke dapat dibagi dua bagian, yaitu stroke
perdarahan dan stroke sumbatan. Sekitar 80 persen penderita mengalami
stroke sumbatan dan hanya sedikit penderita yang mengalami stroke
perdarahan. Keduanya memiliki kelemahan, yaitu stroke perdarahan pada
tahap akut dapat mengakibatkan angka kematian (mortalitas) yang tinggi.
Sedangkan stroke sumbatan, yang sulit ditangani adalah gejala sisanya.
Stroke sumbatan mengakibatkan banyak sel otak yang mati. (VIN)
Sumber : Free Lists
Tuesday, 25 September 2007
DERMATITIS
DERMATITIS lebih dikenal sebagai eksim, merupakan penyakit kulit yang mengalami peradangan. Dermatitis dapat terjadi karena bermacam sebab dan timbul dalam berbagai jenis, terutama kulit yang kering. Umumnya enzim dapat menyebabkan pembengkakan, memerah, dan gatal pada kulit.
Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.
Sejumlah kondisi kesehatan, alergi, faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi dapat menjadi penyebab eksim. Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda pula. Seringkali, kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi infeksi. Jika kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan terasa panas saat disentuh dan dapat menular.
Selulit muncul pada seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus. Segera periksa ke dokter jika kita mengalami selulit dan eksim.
Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala berbeda:
Contact Dermatitis.
Dermatitis yang muncul dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada tanaman merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah dan gatal. Jika memburuk, penderita akan mengalami bentol-bentol yang meradang.
Disebabkan kontak langsung dengan salah satu penyebab iritasi pada kulit atau alergi. Contohnya sabun cuci/detergen, sabun mandi atau pembersih lantai. Alergennya bisa berupa karet, logam, perhiasan, parfum, kosmetik atau rumput.
Neurodermatitis.
Timbul karena goresan pada kulit secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat berdiameter sekitar 2,5 sampai 25 cm.
Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat yang kita kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk menggaruk bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan kaki, pergelangan tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
Seborrheic Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin; melepuhnya sisi-sisi dari hidung, antara kedua alis, belakang telinga serta dada bagian atas.
Dermatitis ini seringkali diakibatkan faktor keturunan, muncul saat kondisi mental dalam keadaan stres atau orang yang menderita penyakit saraf seperti Parkinson.
Stasis Dermatitis
Yang muncul dengan adanya varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang kering berubah warna menjadi memerah atau coklat, menebal dan gatal. Dermatitis muncul ketika adanya akumulasi cairan di bawah jaringan kulit. Varises dan kondisi kronis lain pada kaki juga menjadi penyebab.
Atopic Dermatitis
Dengan indikasi dan gejala antara lain gatal-gatal, kulit menebal, dan pecah-pecah. Seringkali muncul di lipatan siku atau belakang lutut.
Dermatitis biasanya muncul saat alergi dan seringkali muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga memiliki asma. Biasanya dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang tingkat keparahannya selama masa kecil dan dewasa. (ros/Detikhealth)
Cara Mencegah Dermatitis.
MENCEGAH penyakit kulit dermatitis berarti menghindari kontak dengan substansi tertentu seperti sabun/detergen penyebab iritasi kulit, atau kontak dengan tanaman merambat. Menghindari kulit kering juga salah satu cara mencegah terjadinya eksim.
Berikut cara meminimalisir dermatitis :
1. Tidak terlalu sering berenang. Setelah berenang, segera bilas badan dengan air hangat.
2. Tidak berganti-ganti sabun mandi. Hanya gunakan sabun mandi yang lembut, tidak berbusa dan tidak menghilangkan minyak natural tubuh. Pastikan yang digunakan untuk mandi adalah air bersih.
3. Keringkan tubuh, gosok tubuh dengan handuk yang lembut segera setelah mandi–sampai air yang melekat di kulit tersapu dengan handuk.
4. Gunakan pelembab pada kulit, menjaga kulit tetap lembab dengan produk-produk yang dijual bebas. Berikan perhatian lebih pada bagian tubuh seperti kaki, lengan, punggung, dan samping tubuh.
5. Perawatan diri bagi orang yang telanjur terkena dermatitis:
• Hindari goresan yang ditimbulkan garukan karena rasa gatal pada kulit.
• Lindungi kulit yang terasa gatal dengan pakaian jika tidak dapat menahan diri untuk menggaruknya.
• Gunakan sarung tangan pada malam hari saat akan tidur, mencegah menggaruk secara tak sengaja.
• Gunakan pakaian yang tidak memicu keluarnya keringat berlebihan.
• Hindari kontak dengan barang yang berbahan dari wool seperti pada karpet atau baju.
• Hindari kontak dengan sabun/detergen yang bersifat keras.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.
Sejumlah kondisi kesehatan, alergi, faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi dapat menjadi penyebab eksim. Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda pula. Seringkali, kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi infeksi. Jika kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan terasa panas saat disentuh dan dapat menular.
Selulit muncul pada seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus. Segera periksa ke dokter jika kita mengalami selulit dan eksim.
Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala berbeda:
Contact Dermatitis.
Dermatitis yang muncul dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada tanaman merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah dan gatal. Jika memburuk, penderita akan mengalami bentol-bentol yang meradang.
Disebabkan kontak langsung dengan salah satu penyebab iritasi pada kulit atau alergi. Contohnya sabun cuci/detergen, sabun mandi atau pembersih lantai. Alergennya bisa berupa karet, logam, perhiasan, parfum, kosmetik atau rumput.
Neurodermatitis.
Timbul karena goresan pada kulit secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat berdiameter sekitar 2,5 sampai 25 cm.
Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat yang kita kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk menggaruk bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan kaki, pergelangan tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
Seborrheic Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin; melepuhnya sisi-sisi dari hidung, antara kedua alis, belakang telinga serta dada bagian atas.
Dermatitis ini seringkali diakibatkan faktor keturunan, muncul saat kondisi mental dalam keadaan stres atau orang yang menderita penyakit saraf seperti Parkinson.
Stasis Dermatitis
Yang muncul dengan adanya varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang kering berubah warna menjadi memerah atau coklat, menebal dan gatal. Dermatitis muncul ketika adanya akumulasi cairan di bawah jaringan kulit. Varises dan kondisi kronis lain pada kaki juga menjadi penyebab.
Atopic Dermatitis
Dengan indikasi dan gejala antara lain gatal-gatal, kulit menebal, dan pecah-pecah. Seringkali muncul di lipatan siku atau belakang lutut.
Dermatitis biasanya muncul saat alergi dan seringkali muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga memiliki asma. Biasanya dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang tingkat keparahannya selama masa kecil dan dewasa. (ros/Detikhealth)
Cara Mencegah Dermatitis.
MENCEGAH penyakit kulit dermatitis berarti menghindari kontak dengan substansi tertentu seperti sabun/detergen penyebab iritasi kulit, atau kontak dengan tanaman merambat. Menghindari kulit kering juga salah satu cara mencegah terjadinya eksim.
Berikut cara meminimalisir dermatitis :
1. Tidak terlalu sering berenang. Setelah berenang, segera bilas badan dengan air hangat.
2. Tidak berganti-ganti sabun mandi. Hanya gunakan sabun mandi yang lembut, tidak berbusa dan tidak menghilangkan minyak natural tubuh. Pastikan yang digunakan untuk mandi adalah air bersih.
3. Keringkan tubuh, gosok tubuh dengan handuk yang lembut segera setelah mandi–sampai air yang melekat di kulit tersapu dengan handuk.
4. Gunakan pelembab pada kulit, menjaga kulit tetap lembab dengan produk-produk yang dijual bebas. Berikan perhatian lebih pada bagian tubuh seperti kaki, lengan, punggung, dan samping tubuh.
5. Perawatan diri bagi orang yang telanjur terkena dermatitis:
• Hindari goresan yang ditimbulkan garukan karena rasa gatal pada kulit.
• Lindungi kulit yang terasa gatal dengan pakaian jika tidak dapat menahan diri untuk menggaruknya.
• Gunakan sarung tangan pada malam hari saat akan tidur, mencegah menggaruk secara tak sengaja.
• Gunakan pakaian yang tidak memicu keluarnya keringat berlebihan.
• Hindari kontak dengan barang yang berbahan dari wool seperti pada karpet atau baju.
• Hindari kontak dengan sabun/detergen yang bersifat keras.
Sumber : jacksite.wordpress.com
CHIKUNGUNYA FEVER
CHIKUNGUNYA FEVER Adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya. Nama lain dari penyakit ini antara lain : epidemic polyarthritis and rash, dan CHIK. Virus Chikungunya sendiri merupakan RNA virus, termasuk dalam golongan Togaviridae (grup A arbovirus), genus Alphavirus. Berbentuk spheris, berdiameter sekitar 60 nm, single stranded.
Penyakit ini menimbulkan gambaran panas yang tinggi akibat virus yang bersifat self limited, nyeri dan peradangan sendi pada lutut, pergelangan kaki, dan sendi kecil lain pada anggota gerak, diikuti oleh maculopapular rash (bercak kemerahan yang meninggi) pada kulit. Dapat pula timbul enanthema pada buccal (rongga mulut) dan palatal (langit-langit mulut), mual dan muntah, serta perdarahan ringan (khususnya pada anak). Namun sering juga infeksi tersebut timbul tanpa gejala. Masa inkubasinya umumnya 1 - 12 hari.
Penyakit ini banyak terjadi di Afrika, India, Asia Tenggara, dan Filipina. Penyakit ini menjadi epidemi dalam siklus sekitar 80 tahunan. Host (organisme yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak) dari virus ini adalah manusia, primata, mammalia lainnya, dan burung. Penularan penyakit ini berasal dari gigitan nyamuk yang terinfeksi, ataupun inokulasi langsung melalui darah (seperti pada tranfusi darah yang terinfeksi). Nyamuk yang merupakan vektor dari virus ini antara lain : Aedes Albopictus; Aedes spp; Ae. Aegypti; Ae Africanus Mansoni spp. Penting dilakukan tindakan untuk memutus mata rantai penularan virus ini. Cara yang cukup efektif yaitu dengan melakukan tindakan fogging terhadap vektornya (nyamuk).
Untuk mendiagnosis virus ini disamping dengan melihat gejala dan tanda klinis yang timbul, juga melalui pemeriksaan penunjang, seperti dengan melakukan pemeriksaan darah, analisa serum, maupun isolasi virus melalui kultur jaringan.
Belum ditemukan obat spesifik untuk penyakit ini. Juga belum ditemukan imunisasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun pada penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini dalam jangka panjang. Pengobatan yang diberikan umumnya untuk menghilangkan atau meringankan gejala klinis yang ada saja (symptomatik therapy), seperti pemberian obat panas, obat mual / muntah, maupun analgetik untuk menghilangkan nyeri sendi.
Perjalanan penyakit ini umumnya cukup baik, karena bersifat self limited disease. Yaitu akan sembuh sendiri dalam waktu tertentu. Namun pada orang dengan sistem imunitas yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS dan yang menggunakan obat-obatan immunosupresif, akan menimbulkan komplikasi yang cukup berat dan bahkan menimbulkan kematian.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Penyakit ini menimbulkan gambaran panas yang tinggi akibat virus yang bersifat self limited, nyeri dan peradangan sendi pada lutut, pergelangan kaki, dan sendi kecil lain pada anggota gerak, diikuti oleh maculopapular rash (bercak kemerahan yang meninggi) pada kulit. Dapat pula timbul enanthema pada buccal (rongga mulut) dan palatal (langit-langit mulut), mual dan muntah, serta perdarahan ringan (khususnya pada anak). Namun sering juga infeksi tersebut timbul tanpa gejala. Masa inkubasinya umumnya 1 - 12 hari.
Penyakit ini banyak terjadi di Afrika, India, Asia Tenggara, dan Filipina. Penyakit ini menjadi epidemi dalam siklus sekitar 80 tahunan. Host (organisme yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak) dari virus ini adalah manusia, primata, mammalia lainnya, dan burung. Penularan penyakit ini berasal dari gigitan nyamuk yang terinfeksi, ataupun inokulasi langsung melalui darah (seperti pada tranfusi darah yang terinfeksi). Nyamuk yang merupakan vektor dari virus ini antara lain : Aedes Albopictus; Aedes spp; Ae. Aegypti; Ae Africanus Mansoni spp. Penting dilakukan tindakan untuk memutus mata rantai penularan virus ini. Cara yang cukup efektif yaitu dengan melakukan tindakan fogging terhadap vektornya (nyamuk).
Untuk mendiagnosis virus ini disamping dengan melihat gejala dan tanda klinis yang timbul, juga melalui pemeriksaan penunjang, seperti dengan melakukan pemeriksaan darah, analisa serum, maupun isolasi virus melalui kultur jaringan.
Belum ditemukan obat spesifik untuk penyakit ini. Juga belum ditemukan imunisasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun pada penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini dalam jangka panjang. Pengobatan yang diberikan umumnya untuk menghilangkan atau meringankan gejala klinis yang ada saja (symptomatik therapy), seperti pemberian obat panas, obat mual / muntah, maupun analgetik untuk menghilangkan nyeri sendi.
Perjalanan penyakit ini umumnya cukup baik, karena bersifat self limited disease. Yaitu akan sembuh sendiri dalam waktu tertentu. Namun pada orang dengan sistem imunitas yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS dan yang menggunakan obat-obatan immunosupresif, akan menimbulkan komplikasi yang cukup berat dan bahkan menimbulkan kematian.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Anthrax
Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut. Penyebabnya bakteri Bacillus anthracis. Menurut drh Suprodjo Hardjo Utomo MS APU dari Balitvet, bakteri ini bersifat aerob, memerlukan oksigen untuk hidup. Di alam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia. Kasus di Bogor tejadi karena spora terbawa banjir. Hewan tertular akibat makan spora yang menempel pada tanaman yang dimakan. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar.
Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.
Masa inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari. Mula-mula kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri.
Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak. Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Namun obatnya sudah ada, yakni penisilin dan derivatnya. Karena setiap petugas kesehatan sudah dilatih untuk menangani, sebaiknya penderita segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit.
Untuk mencegah tertular anthrax dianjurkan untuk membeli daging dari tempat pemotongan resmi, memasak daging secara matang untuk mematikan kuman, serta mencuci tangan sebelum makan.
Penyakit Anthrax termasuk kelompok penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (Zoonosis). Penyakit ini paling sering menyerang ternak herbivora terutama Sapi, domba, Kambing dan selalu berakhir pada kematian. Sasaran berikutnya kuda dan babi. Hewan kelompok omnivora ini bisa lebih bertahan sehingga sebagian penderita selamat dari maut. Serangan pada ayam, belum pernah ada laporan. Berdasar penelitan yang selama ini telah dilakukan, pada manusia, dilaporkan tingkat kematian mencapai 18 persen (dari 100 kasus, 18 penderita meninggal). Penyebab Anthrax, bernama Bacillus anthracis, dapat bersembunyi dalam tanah selama 70 tahun. Bila situasi lingkungan cocok bagi pertumbuhan kuman, misalnya karena tergenang air, B anthracis akan bangkit dari kubur dan menyerang hewan yang ada di sekitarnya. Karenanya, tanah yang tercemar merupakan sumber infeksi dan bersifat bahaya laten. Kumannya dapat terserap akar tumbuh-tumbuhan hingga mencapai daun maupun buah sehingga akan menginfeksi ternak maupun manusia yang mengkonsumsinya.
Sumber infeksi lainnya adalah bangkai ternak pengindap anthrax. Miliaran B anthracis memadati darah (septisemia), organ-organ dalam. Pokoknya seluruh tubuh bangkai, termasuk benda yang keluar dari bangkai, mengandung kuman penyebab anthrax. Dalam 1 mililiter darah setidaknya mengandung 1 miliar B anthracis. Bila B anthracis aktif bersinggungan dengan Oksigen, segera mengubah diri dalam bentuk spora yang memiliki daya tahan hidup lebih tinggi. Dalam bentuk spora ini, kuman penyebab anthrax dapat bertahan hidup sampai 70 tahun di dalam tanah. Spora-spora tersebut dapat diterbangkan angin, atau dihanyutkan aliran air kemudian mencemari apa saja (air, pakan, rumput, peralatan, kendaraan, hewan dan sebagainya). Spora B anthracis yang menempel pada pakan atau air minum dan benda lainnya, bila termakan atau terhirup pernafasan atau menempel pada kulit yang luka akan berubah menjadi bentuk aktif dan masuk ke dalam jaringan serta berkembang biak. Sejak kuman masuk ke dalam tubuh ternak sampai menimbulkan gejala sakit yang disebut masa inkubasi memerlukan waktu antara 1 - 2 minggu.
PENGENALAN PENYAKIT
Mendeteksi secara dini penyakit antraks dapat mudah dilakukan bila kalangan medis sudah pernah melihat secara langsung kelainan pathognomonis yang ada seperti eschar pada kulit, yaitu kerak hitam yang berada ditengah ulkus yang mongering. Untuk mengenal penyakit antraks tersebut maka harus diketahui manifestasi klinisnya.
Antraks kulit
Keluhan penderita : demam subfebris, sakit kepala.
Pada pemeriksaan, umumnya di daerah terbuka seperti muka, leher, lengan dan tangan ditemukan kelainan berupa papel, vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam, kering yang disebut eschar ( pathognomonik ) disekitar ulkus, sering didapatkan eritema dan edema. Pada perabaan edema tersebut tidak lunak dan tidak lekuk ( non pitting ) bila ditekan, disebut juga malignant pustule.
Antraks saluran pencernaan
Keluhan penderita : rasa sakit perut yang hebat, mual, muntah, tidak napsu makan, suhu badan meningkat, hematemesis.
Pemeriksaan fisik : perut membesar dan keras, dapat berkembang menjadi ascites dan edema scrotum.
Antraks paru-paru
Keluhan penderita : demam subfebris, batuk non produktif, lesu, lemah. Dalam 2 ? 4 hari gangguan pernafasan menjadi hebatdisertai suhu yang meningkat, sianosis. Dispneu, keringat berlebihan, detak jantung menjadi lebih cepat.
Pemeriksaan fisik : edema subkutan di daerah dada dan leher.
Antraks meningitis : akibat dari komplikasi bentuk antraks yang lain. Gejala klinis seperti randang otak maupun selaput otak yaitu demam, sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, kaku kuduk.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.
Masa inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari. Mula-mula kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri.
Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak. Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Namun obatnya sudah ada, yakni penisilin dan derivatnya. Karena setiap petugas kesehatan sudah dilatih untuk menangani, sebaiknya penderita segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit.
Untuk mencegah tertular anthrax dianjurkan untuk membeli daging dari tempat pemotongan resmi, memasak daging secara matang untuk mematikan kuman, serta mencuci tangan sebelum makan.
Penyakit Anthrax termasuk kelompok penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (Zoonosis). Penyakit ini paling sering menyerang ternak herbivora terutama Sapi, domba, Kambing dan selalu berakhir pada kematian. Sasaran berikutnya kuda dan babi. Hewan kelompok omnivora ini bisa lebih bertahan sehingga sebagian penderita selamat dari maut. Serangan pada ayam, belum pernah ada laporan. Berdasar penelitan yang selama ini telah dilakukan, pada manusia, dilaporkan tingkat kematian mencapai 18 persen (dari 100 kasus, 18 penderita meninggal). Penyebab Anthrax, bernama Bacillus anthracis, dapat bersembunyi dalam tanah selama 70 tahun. Bila situasi lingkungan cocok bagi pertumbuhan kuman, misalnya karena tergenang air, B anthracis akan bangkit dari kubur dan menyerang hewan yang ada di sekitarnya. Karenanya, tanah yang tercemar merupakan sumber infeksi dan bersifat bahaya laten. Kumannya dapat terserap akar tumbuh-tumbuhan hingga mencapai daun maupun buah sehingga akan menginfeksi ternak maupun manusia yang mengkonsumsinya.
Sumber infeksi lainnya adalah bangkai ternak pengindap anthrax. Miliaran B anthracis memadati darah (septisemia), organ-organ dalam. Pokoknya seluruh tubuh bangkai, termasuk benda yang keluar dari bangkai, mengandung kuman penyebab anthrax. Dalam 1 mililiter darah setidaknya mengandung 1 miliar B anthracis. Bila B anthracis aktif bersinggungan dengan Oksigen, segera mengubah diri dalam bentuk spora yang memiliki daya tahan hidup lebih tinggi. Dalam bentuk spora ini, kuman penyebab anthrax dapat bertahan hidup sampai 70 tahun di dalam tanah. Spora-spora tersebut dapat diterbangkan angin, atau dihanyutkan aliran air kemudian mencemari apa saja (air, pakan, rumput, peralatan, kendaraan, hewan dan sebagainya). Spora B anthracis yang menempel pada pakan atau air minum dan benda lainnya, bila termakan atau terhirup pernafasan atau menempel pada kulit yang luka akan berubah menjadi bentuk aktif dan masuk ke dalam jaringan serta berkembang biak. Sejak kuman masuk ke dalam tubuh ternak sampai menimbulkan gejala sakit yang disebut masa inkubasi memerlukan waktu antara 1 - 2 minggu.
PENGENALAN PENYAKIT
Mendeteksi secara dini penyakit antraks dapat mudah dilakukan bila kalangan medis sudah pernah melihat secara langsung kelainan pathognomonis yang ada seperti eschar pada kulit, yaitu kerak hitam yang berada ditengah ulkus yang mongering. Untuk mengenal penyakit antraks tersebut maka harus diketahui manifestasi klinisnya.
Antraks kulit
Keluhan penderita : demam subfebris, sakit kepala.
Pada pemeriksaan, umumnya di daerah terbuka seperti muka, leher, lengan dan tangan ditemukan kelainan berupa papel, vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam, kering yang disebut eschar ( pathognomonik ) disekitar ulkus, sering didapatkan eritema dan edema. Pada perabaan edema tersebut tidak lunak dan tidak lekuk ( non pitting ) bila ditekan, disebut juga malignant pustule.
Antraks saluran pencernaan
Keluhan penderita : rasa sakit perut yang hebat, mual, muntah, tidak napsu makan, suhu badan meningkat, hematemesis.
Pemeriksaan fisik : perut membesar dan keras, dapat berkembang menjadi ascites dan edema scrotum.
Antraks paru-paru
Keluhan penderita : demam subfebris, batuk non produktif, lesu, lemah. Dalam 2 ? 4 hari gangguan pernafasan menjadi hebatdisertai suhu yang meningkat, sianosis. Dispneu, keringat berlebihan, detak jantung menjadi lebih cepat.
Pemeriksaan fisik : edema subkutan di daerah dada dan leher.
Antraks meningitis : akibat dari komplikasi bentuk antraks yang lain. Gejala klinis seperti randang otak maupun selaput otak yaitu demam, sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, kaku kuduk.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Ambeien
Apakah Anda banyak menghabiskan waktu dengan duduk, berdiri dalam waktu lama, atau sering mengangkat beban yang berat? Jika ya, Anda sebaiknya waspada. Apalagi jika Anda hanya sedikit mengonsumsi air putih dan sayuran berserat. Anda berpotensi terserang wasir atau ambeien
Menurut ahli bedah dari RS Husada Jakarta, Soetanto Gandakusuma, MD wasir adalah penyakit yang timbul karena pembuluh-pembuluh darah di daerah anus melebar akibat aliran darah ke jantung terhambat. “Pembuluh yang melebar ini kemudian ditutupi oleh selaput lendir, kulit, jaringan ikat atau otot-otot polos, dan lama-kelamaan membengkak dan membentuk tonjolan,” jelasnya.
Pemicu utama wasir sangat sederhana, yakni saat susah buang air besar, terpaksa harus mengejan. Selain itu, pekerjaan yang menyita banyak waktu duduk, berdiri lama, mengangkat yang berat-berat dan kehamilan juga bisa mengakibatkan wasir.
Beberapa jenis makanan yang merangsang, seperti cabe dan rempah-rempah pun dapat memicu wasir. “Karena zat dalam makanan tersebut membuat pembuluh darah gampang melebar.” Penyakit diare kronis juga bisa menimbulkan wasir. “Saat diare, kita buang air berulang-ulang, sehingga pembuluh darah yang melebar dan tertutup oleh selaput lendir, jaringan ikat atau kulit, terlalui kotoran dan terinfeksi.”
Ada juga yang bilang, wasir juga merupakan penyakit keturunan. Jika orangtua punya wasir, maka si anak juga berisiko terkena wasir. “Memang ada yang bilang wasir adalah penyakit keturunan, tapi presentasinya tidak dominan. Hanya sekitar 10 ¬ 15 persen,” ungkap Soetanto.
Siapa saja yang bisa kena wasir? “Pada dasarnya bisa menyerang siapa saja dan dari berbagai lapisan usia, kecuali wasir luar tentu berbeda dengan wasir dalam. “Karena berada di luar dan tidak dilalui kotoran, keluhannya adalah rasa sakit atau nyeri akibat pembuluh darah yang pecah. Setelah pecah, darah tidak keluar tapi mengumpul dan menjadi trombus (bekuan darah),” lanjut Soetanto.
Ada kalanya wasir pecah, tapi tetap menonjol dan menjadi bekuan darah.
Sebetulnya, hampir 50 ¬ 60 persen manusia dewasa mempunyai wasir. Namun, tidak semua penderita wasir butuh pengobatan. Kalau tonjolan wasirnya tidak besar, hanya berdarah 2 atau 3 bulan sekali dan tidak ada keluhan, “Ya tidak perlu diobati, apalagi dioperasi. Tapi kalau sudah terasa sakit, nyeri, sering berdarah dan tonjolan terasa terganggu, baru perlu diobati,” jelas Soetanto.
Jadi, langkah pertama jika punya keluhan buang air adalah langsung periksa ke dokter. “Selain mendengar keluhan, dokter juga akan memeriksa dengan teknik colok dubur. Teknik ini merupakan tingkat pemeriksaan pertama dan paling penting,” lanjutnya. Caranya adalah dengan anak-anak,” rinci Soetanto. Anak-anak biasanya tidak terkena wasir, kalaupun anak susah buang air dan keluar darah, itu biasanya karena luka di anus saja. “Darah tidak menetes dan hanya menempel di feses. Bisa juga anak punya polip (daging tumbuh) berwarna merah bertangkai yang ada di daerah anus. Polip ini merupakan bawaan lahir. Saat polip dilalui feses yang keras, maka kadangkala berdarah,” lanjut Soetanto.
TAK SEMUA BUTUH PENGOBATAN
Ada 2 macam wasir, yaitu wasir dalam dan wasir luar. “Keduanya sama bahayanya. Pada wasir dalam, pembuluh darah ditutupi oleh selaput lendir yang basah di dalam anus. Awalnya wasir dalam tidak terlihat dari luar, tapi kalau sudah membesar bisa menonjol keluar,” jelas Soetanto. Gejala umum wasir dalam adalah keluar darah kalau buang air, karena tonjolan wasir yang menempel di dinding dalam anus tergesek oleh feses yang sulit keluar. Khusus untuk wasir dalam, ada beberapa stadium, yaitu:
1. Stadium 1, tonjolan masih kecil dan belum keluar. Gejalanya, darah menetes setiap habis buang air besar.
2. Stadium 2, tonjolan sudah keluar tapi belum begitu besar. Gejalanya, setelah buang air besar, tonjolan keluar, tapi akan masuk kembali saat penderita dalam posisi berdiri.
3. Stadium 3, tonjolan sudah lebih besar. Gejalanya, usai buang air tonjolan keluar dan tidak masuk lagi. Jadi harus ditekan dan didorong menggunakan tangan.
4. Stadium 4, tonjolan bisa sebesar bola tenis. Tonjolan tidak bisa didorong masuk, dan harus dioperasi.
Sementara pada wasir luar, kulitlah yang menutupi pembuluh darah. Karena posisinya di luar anus, wasir luar lebih gampang terlihat. Gejala umum wasir luar tentu berbeda dengan wasir dalam. “Karena berada di luar dan tidak dilalui kotoran, keluhannya adalah rasa sakit atau nyeri akibat pembuluh darah yang pecah. Setelah pecah, darah tidak keluar tapi mengumpul dan menjadi trombus (bekuan darah),” lanjut Soetanto.
Ada kalanya wasir pecah, tapi tetap menonjol dan menjadi bekuan darah.
Sebetulnya, hampir 50 ¬ 60 persen manusia dewasa mempunyai wasir. Namun, tidak semua penderita wasir butuh pengobatan. Kalau tonjolan wasirnya tidak besar, hanya berdarah 2 atau 3 bulan sekali dan tidak ada keluhan, “Ya tidak perlu diobati, apalagi dioperasi. Tapi kalau sudah terasa sakit, nyeri, sering berdarah dan tonjolan terasa terganggu, baru perlu diobati,” jelas Soetanto.
Jadi, langkah pertama jika punya keluhan buang air adalah langsung periksa ke dokter. “Selain mendengar keluhan, dokter juga akan memeriksa dengan teknik colok dubur. Teknik ini merupakan tingkat pemeriksaan pertama dan paling penting,” lanjutnya. Caranya adalah dengan memasukkan jari yang bersarung tangan higienis ke anus pasien. “Jika wasir, umumnya tidak teraba benjolan. Sementara kalau tumor, akan langsung teraba.”
Setelah itu, untuk lebih meyakin kan, dilakukan pemeriksaan menggunakan alat anuscop, alat seperti selang sepanjang 20 cm berdiameter 2 cm dan memiliki lampu di ujungnya. Anuscop dimasukkan ke dalam anus pasien untuk melihat apakah pasien menderita wasir biasa atau tumor.Wasir disebut juga sebagai ambeien sedangkan dalam istilah kedokterannya disebut hemorrhoids. Wasir terjadi karena pelebaran atau pembengkakan pembuluh darah halus di saluran pembuangan (anus). Pembuluh darah halus memiliki dinding yang sangat tipis yang sangat rentan akan pelebaran atau pembengkakan.
Anda membenci saatnya buang air besar (BAB) karena terasa menyiksa? Bisa jadi Anda adalah penderita wasir. Gejala penyakit ini dapat bermacam-macam tergantung dari tingkat keparahannya. Pada permulaannya dapat berupa rasa panas dan gatal atau kadang-kadang terasa pedih di daerah sekitar dubur. Termasuk selalu nyeri sewaktu buang air besar.
Ada juga dengan gejala benjolan lunak di dubur yang kadang-kadang lebih dari satu benjolan. Ada tetesan darah segar di dubur setelah buang air besar.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Menurut ahli bedah dari RS Husada Jakarta, Soetanto Gandakusuma, MD wasir adalah penyakit yang timbul karena pembuluh-pembuluh darah di daerah anus melebar akibat aliran darah ke jantung terhambat. “Pembuluh yang melebar ini kemudian ditutupi oleh selaput lendir, kulit, jaringan ikat atau otot-otot polos, dan lama-kelamaan membengkak dan membentuk tonjolan,” jelasnya.
Pemicu utama wasir sangat sederhana, yakni saat susah buang air besar, terpaksa harus mengejan. Selain itu, pekerjaan yang menyita banyak waktu duduk, berdiri lama, mengangkat yang berat-berat dan kehamilan juga bisa mengakibatkan wasir.
Beberapa jenis makanan yang merangsang, seperti cabe dan rempah-rempah pun dapat memicu wasir. “Karena zat dalam makanan tersebut membuat pembuluh darah gampang melebar.” Penyakit diare kronis juga bisa menimbulkan wasir. “Saat diare, kita buang air berulang-ulang, sehingga pembuluh darah yang melebar dan tertutup oleh selaput lendir, jaringan ikat atau kulit, terlalui kotoran dan terinfeksi.”
Ada juga yang bilang, wasir juga merupakan penyakit keturunan. Jika orangtua punya wasir, maka si anak juga berisiko terkena wasir. “Memang ada yang bilang wasir adalah penyakit keturunan, tapi presentasinya tidak dominan. Hanya sekitar 10 ¬ 15 persen,” ungkap Soetanto.
Siapa saja yang bisa kena wasir? “Pada dasarnya bisa menyerang siapa saja dan dari berbagai lapisan usia, kecuali wasir luar tentu berbeda dengan wasir dalam. “Karena berada di luar dan tidak dilalui kotoran, keluhannya adalah rasa sakit atau nyeri akibat pembuluh darah yang pecah. Setelah pecah, darah tidak keluar tapi mengumpul dan menjadi trombus (bekuan darah),” lanjut Soetanto.
Ada kalanya wasir pecah, tapi tetap menonjol dan menjadi bekuan darah.
Sebetulnya, hampir 50 ¬ 60 persen manusia dewasa mempunyai wasir. Namun, tidak semua penderita wasir butuh pengobatan. Kalau tonjolan wasirnya tidak besar, hanya berdarah 2 atau 3 bulan sekali dan tidak ada keluhan, “Ya tidak perlu diobati, apalagi dioperasi. Tapi kalau sudah terasa sakit, nyeri, sering berdarah dan tonjolan terasa terganggu, baru perlu diobati,” jelas Soetanto.
Jadi, langkah pertama jika punya keluhan buang air adalah langsung periksa ke dokter. “Selain mendengar keluhan, dokter juga akan memeriksa dengan teknik colok dubur. Teknik ini merupakan tingkat pemeriksaan pertama dan paling penting,” lanjutnya. Caranya adalah dengan anak-anak,” rinci Soetanto. Anak-anak biasanya tidak terkena wasir, kalaupun anak susah buang air dan keluar darah, itu biasanya karena luka di anus saja. “Darah tidak menetes dan hanya menempel di feses. Bisa juga anak punya polip (daging tumbuh) berwarna merah bertangkai yang ada di daerah anus. Polip ini merupakan bawaan lahir. Saat polip dilalui feses yang keras, maka kadangkala berdarah,” lanjut Soetanto.
TAK SEMUA BUTUH PENGOBATAN
Ada 2 macam wasir, yaitu wasir dalam dan wasir luar. “Keduanya sama bahayanya. Pada wasir dalam, pembuluh darah ditutupi oleh selaput lendir yang basah di dalam anus. Awalnya wasir dalam tidak terlihat dari luar, tapi kalau sudah membesar bisa menonjol keluar,” jelas Soetanto. Gejala umum wasir dalam adalah keluar darah kalau buang air, karena tonjolan wasir yang menempel di dinding dalam anus tergesek oleh feses yang sulit keluar. Khusus untuk wasir dalam, ada beberapa stadium, yaitu:
1. Stadium 1, tonjolan masih kecil dan belum keluar. Gejalanya, darah menetes setiap habis buang air besar.
2. Stadium 2, tonjolan sudah keluar tapi belum begitu besar. Gejalanya, setelah buang air besar, tonjolan keluar, tapi akan masuk kembali saat penderita dalam posisi berdiri.
3. Stadium 3, tonjolan sudah lebih besar. Gejalanya, usai buang air tonjolan keluar dan tidak masuk lagi. Jadi harus ditekan dan didorong menggunakan tangan.
4. Stadium 4, tonjolan bisa sebesar bola tenis. Tonjolan tidak bisa didorong masuk, dan harus dioperasi.
Sementara pada wasir luar, kulitlah yang menutupi pembuluh darah. Karena posisinya di luar anus, wasir luar lebih gampang terlihat. Gejala umum wasir luar tentu berbeda dengan wasir dalam. “Karena berada di luar dan tidak dilalui kotoran, keluhannya adalah rasa sakit atau nyeri akibat pembuluh darah yang pecah. Setelah pecah, darah tidak keluar tapi mengumpul dan menjadi trombus (bekuan darah),” lanjut Soetanto.
Ada kalanya wasir pecah, tapi tetap menonjol dan menjadi bekuan darah.
Sebetulnya, hampir 50 ¬ 60 persen manusia dewasa mempunyai wasir. Namun, tidak semua penderita wasir butuh pengobatan. Kalau tonjolan wasirnya tidak besar, hanya berdarah 2 atau 3 bulan sekali dan tidak ada keluhan, “Ya tidak perlu diobati, apalagi dioperasi. Tapi kalau sudah terasa sakit, nyeri, sering berdarah dan tonjolan terasa terganggu, baru perlu diobati,” jelas Soetanto.
Jadi, langkah pertama jika punya keluhan buang air adalah langsung periksa ke dokter. “Selain mendengar keluhan, dokter juga akan memeriksa dengan teknik colok dubur. Teknik ini merupakan tingkat pemeriksaan pertama dan paling penting,” lanjutnya. Caranya adalah dengan memasukkan jari yang bersarung tangan higienis ke anus pasien. “Jika wasir, umumnya tidak teraba benjolan. Sementara kalau tumor, akan langsung teraba.”
Setelah itu, untuk lebih meyakin kan, dilakukan pemeriksaan menggunakan alat anuscop, alat seperti selang sepanjang 20 cm berdiameter 2 cm dan memiliki lampu di ujungnya. Anuscop dimasukkan ke dalam anus pasien untuk melihat apakah pasien menderita wasir biasa atau tumor.Wasir disebut juga sebagai ambeien sedangkan dalam istilah kedokterannya disebut hemorrhoids. Wasir terjadi karena pelebaran atau pembengkakan pembuluh darah halus di saluran pembuangan (anus). Pembuluh darah halus memiliki dinding yang sangat tipis yang sangat rentan akan pelebaran atau pembengkakan.
Anda membenci saatnya buang air besar (BAB) karena terasa menyiksa? Bisa jadi Anda adalah penderita wasir. Gejala penyakit ini dapat bermacam-macam tergantung dari tingkat keparahannya. Pada permulaannya dapat berupa rasa panas dan gatal atau kadang-kadang terasa pedih di daerah sekitar dubur. Termasuk selalu nyeri sewaktu buang air besar.
Ada juga dengan gejala benjolan lunak di dubur yang kadang-kadang lebih dari satu benjolan. Ada tetesan darah segar di dubur setelah buang air besar.
Sumber : jacksite.wordpress.com
Subscribe to:
Posts (Atom)